Keluh Kesah LTT Lamandau: “Tikus dan Tanah Masam Tantangan Kami”
LAMANDAU — Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kalimantan Tengah memperkuat koordinasi pendampingan Luas Tambah Tanam (LTT) padi melalui pertemuan teknis di Desa Bukit Raya, Kecamatan Mentobi Raya, Kabupaten Lamandau (4/12/2025). Pertemuan ini digelar untuk memetakan kendala lapangan sekaligus merumuskan langkah penanganan yang lebih terukur dalam budidaya padi.
Kegiatan dihadiri perwakilan Camat Mentobi Raya, Koordinator dan penyuluh Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Mentobi Raya, tim teknis BRMP Kalteng, serta para petani setempat. Suasana diskusi berlangsung dinamis, mencerminkan urgensi persoalan yang dihadapi petani pada musim tanam kali ini.
Dalam forum tersebut, serangan hama tikus mengemuka sebagai ancaman terbesar yang memengaruhi pertumbuhan tanaman. Populasi tikus yang meningkat tajam menyebabkan kerusakan signifikan pada fase awal pertumbuhan padi, sehingga berpotensi menurunkan produktivitas.
“Serangan tikus cukup parah dan sulit dikendalikan sendiri oleh petani. Jika tidak ditangani bersama, tentu berdampak pada hasil panen,” ujar salah seorang petani.
Selain hama, petani juga menyoroti kondisi tanah yang memiliki tingkat keasaman cukup tinggi (pH 3–4). Tanah yang terlalu masam dinilai kurang ideal untuk pertumbuhan padi dan menghambat penyerapan unsur hara.
Menanggapi hal itu, tim teknis BRMP Kalteng, Suparman, menjelaskan pentingnya pengaplikasian dolomit secara tepat untuk menetralkan keasaman tanah. Ia menekankan bahwa pemberian dolomit ideal dilakukan satu minggu sebelum tanam atau saat pengolahan lahan, dengan takaran yang disesuaikan luas lahan masing-masing.
Sepanjang kegiatan, petani tampak aktif bertanya dan bertukar pengalaman. Antusiasme tersebut menunjukkan komitmen kuat petani Mentobi Raya dalam meningkatkan capaian LTT padi dan mendukung upaya pemerintah mewujudkan swasembada pangan.